manusiatentang bahan-bahan Al-Kimiya ini. Bagaimana hendak menyucikan hati mereka dari sifat-sifat rendah dan keji itu. Ikuti perkembangan perbincangan Imam Ghazali ini dari satu tingkat ke satu tingkat yang membuka jalan-jalan orang-orang Sufi yang mencapai Maqam Mahabbah, puncak tertinggi kebahagiaan yang ingin dimiliki Terhadapgolongan pertama ini, kita harus mengikuti, menghormati,dan meneladaninya dalam kehidupan sosial, politik, agama dan lainnya. Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang Tahu (berilmu), tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu). Golongan kedua ini sering kita jumpai dalam kehidupan bermasyarakat. Berikutadalah analisis surah al muzammil ayat 4 ,ungkapan imam Al-Ghazali dan riwayat Abu Dawud: Dalam pandangan Imam Al-Ghazali hakikat diri manusia terdapat dua sifat yg mendasari salah satunya ada dalam ungkapan Imam Al-Ghazali yaitu al-Nafs yang selalu menimbulkan kemarahan dan syahwat dalam diri seseorang. Sifat inilah yang MenurutImam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu Imam Al Ghazali) โ€œSifat utama pemimpin ialah beradab dan mulia hati.โ€ (Imam Al Ghazali) โ€œBelum pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwa saya sendiri, yang kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang menentang saya.โ€ (Imam Al Ghazali) โ€œBarangsiapa yang memilih harta dan anak-anaknya daripada apa yang ada MakalahHukum Kausalitas Menurut Imam Al Ghazali. Hukum kausalitas merupakan salah satu kebenaran yang diakui dan disetujui manusia dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap sesuatu memiliki sebab. Kausalitas termasuk diantara prinsip-prinsip yang niscaya lagi rasonal. , Prinsif kausalitas dalam perspektif filsafat Islam 10 PESANAN IMAMAL-GHAZALI Yang jauh itu Masa Yang dekat itu Mati Yang besar itu Nafsu Yang berat itu Amanah Dan yang indah itu Solat. 11. KESIMPULAN Setelah mempelajari bab ini, kami mendapati bahawa akhlak adalah sesuatu yang penting dalam hidup bagi membina jati diri, keyakinan, disiplin dan sebagainya. 1 Potensi Manusia (Jasmani dan Ruhani) dalam Pengembangan IPTEKS. Ada beberapa pendapat yang membahas tentang potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia. Rakhmad (2005), ada tiga potensi yang dimiliki oleh manusia, yaitu potensi ruh, jasmani (fisik), dan rohaniah. Ruh berisikan potensi manusia untuk bertauhid, yang merupakan kecenderungan 4Sifat Yang Membatalkan, Merusak Amal Shaleh dan Pahala. Riya (riaโ€™), Sumโ€™ah, ujub dan Takabur adalah sifat-sifat tercela yang hampir memiliki kesamaan, dan sifat-sifat tersebut harus kita jauhi, pengertian dan pembahasan selengkapnya simak di bawah ini : A. RIYA. PENGERTIAN RIYA MENURUT BAHASA. AlGhazali menjelaskan bahwasannya sosok guru professional yang ideal yaitu sebagai berikut : 1. Guru professional yang ideal yaitu guru yang mempunyai akal cerdas, mempunyai akhlak yang sempurna, dan mempunyai fisik yang kuat. Guru harus mempunyai sifat ini karena dengan akal yang cerdas maka guru akan mempunyai ilmu pengetahuan yang eVAp. Seseorang yang mengetahui dan sadar bahwa dirinya mengetahui, itulah orang yang Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali membagi manusia menjadi empat macam. Sosok yang bergelar โ€œHujjatul Islamโ€ ini mengelompokkan macam-macam manusia berdasarkan kapasitas keilmuan mereka. Imam Al-Ghazali juga memberikan tips bagaimana menghadapi orang-orang dalam kitab โ€œIhya Uluum al-Diinโ€ juz 1 halaman 80, Imam Al-Ghazali menukil dari ungkapan Syekh Kholil bin Ahmad. Hujjatul Islam mengelompokkan manusia menjadi empat, yaituู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ููŠู’ู„ู ุจู† ุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉูŒุŒ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ูˆูŽูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ุนูŽุงู„ูู…ูŒ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนููˆู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ู†ูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽุฃูŽูŠู’ู‚ูุธููˆู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ูˆูŽูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุฑู’ุดูุฏูŒ ููŽุฃูŽุฑู’ุดูุฏููˆู’ู‡ูุŒ ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ุฌูŽุงู‡ูู„ูŒ ููŽุงุฑู’ููุถููˆู’ู‡ู. ุฅุญูŠุงุก ุนู„ูˆู… ุงู„ุฏูŠู†ุŒ ุฌ 1ุŒ ุต 80Syekh Al-Kholil bin Ahmad berkata โ€œManusia itu ada empat, 1 Seseorang yang mengetahui dan sadar bahwa dirinya mengetahui, itulah orang yang berilmu, maka ikutilah. 2 Seseorang yang mengetahui dan tidak sadar bahwa dirinya mengetahui, itulah orang yang tidur, maka bangunkanlah. 3 Seseorang yang tidak mengetahui dan sadar bahwa dirinya tidak mengetahui, itulah orang yang mencari petunjuk atau bimbingan, maka tujukkanlah atau bimbinglah. 4 Seseorang yang tidak mengetahui dan tidak sadar bahwa dirinya tidak mengetahui, itulah orang bodoh, maka tolaklah hentikanlah.Adapun tipe orang yang pertama ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ูˆูŽูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ุนูŽุงู„ูู…ูŒ ููŽุงุชู‘ูŽุจูุนููˆู’ู‡ู, itu merupakan orang yang berilmu. Ini adalah tipe yang terbaik, ia memiliki kapasitas ilmu yang memadai. Ia sadar bahwa dirinya berilmu dan berkewajiban mengamalkan ilmunya agar bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Tips menghadapi orang ini, yaitu dengan mengikutinya. Tipe orang kedua ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ู†ูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽุฃูŽูŠู’ู‚ูุธููˆู’ู‡ู, di dalam riwayat yang lain berbunyi ูุฐู„ูƒ ุบุงูู„ ูู†ุจู‡ูˆู‡ yang berati โ€œitulah orang yang lalai, maka sadarkanlah diaโ€. Tipe orang kedua ini sering kita jumpai. Ia memiliki ilmu, akan tetapi ia tidak menyadari bahwa dirinya memiliki ilmu. Banyak orang disekitar kita yang memiliki potensi yang luar biasa, akab tetapi ia tidak tahu bahwa dirinya memiliki potensi. Keberadaan orang ini seakan-akan tidak berguna, sebelum dirinya bangun dan sadar dari tidurnya dan kelalaiannya. Tips kita menghadapi orang ini, yaitu dengan membangunkan dari tidurnya dan menyadarkan dari orang ketiga ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ูˆูŽูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ู…ูุณู’ุชูŽุฑู’ุดูุฏูŒ ููŽุฃูŽุฑู’ุดูุฏููˆู’ู‡ู, tipe orang ketiga ini tergolong manusia yang baik. Ia sadar bahwa dirinya memiliki kekurangan. Dengan kesadaran yang dimiliki, ia melakukan intropeksi diri dan menempatkan dirinya di tempat yang pantas baginya. Karena dia sadar dan tahu bahwa dia tidak berilmu, maka dia belajar, belajar dan belajar. Dengan belajar, suatu saat dia menaikkan derajatnya menjadi tipe orang yang berilmu dan sadar kalau dirinya berilmu. Tip menghadapi orang ini, yaitu dengan memberikan bimbingan dan petunjuk tipe orang yang terakhir ูˆูŽุฑูŽุฌูู„ูŒ ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ูŠูŽุฏู’ุฑููŠู’ ููŽุฐูฐู„ููƒูŽ ุฌูŽุงู‡ูู„ูŒ ููŽุงุฑู’ููุถููˆู’ู‡ู., Imam Al-Ghozali menjelaskan bahwa tipe orang ini merupakan yang paling buruk. Pasalnya, ia selalu merasa mengetahui, selalu merasa mengerti, selalu merasa mempunyai ilmu, padahal ia tidak mengerti apa-apa. Manusia yang seperti ini susah untuk disadarkan, kalau diingatkan dia akan membantah. Sebab dirinya merasa lebih mengetahui dan mengerti. Tips menghadapi orang ini, yaitu dengan berhati-hati kepadanya dan menghetikan mengetahui tipe manusia di atas, mari kita intropeksi diri kita masing-masing. Di kelompok manakah diri kita berada?Semoga bermanfaat dan barokah. Aamiin. ADALAH Syeikh Imam al Ghazali atau bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii adalah ulama produktif. Tidak kurang 228 kitab telah ditulisnya, meliputi berbagai disiplin ilmu; tasawuf, fikih, teologi, logika, hingga filsafat. Sang Hujjatul Islam julukan ini diberikan karena kemampuan daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah ini sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah, yang merupakan pusat kebesaran Islam. Al Ghazali pernah membagi manusia menjadi empat 4 golongan; Golongan Pertama; Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri ~ Yaitu orang yang Tahu berilmu, dan dia Tahu kalau dirinya Tahu. Orang ini bisa disebut alim = mengetahui. Kepada orang ini yang harus kita lakukan adalah mengikutinya. Apalagi kalau kita masih termasuk dalam golongan orang yang awam, yang masih butuh banyak diajari, maka sudah seharusnya kita mencari orang yang seperti ini, duduk bersama dengannya akan menjadi pengobat hati. โ€œIni adalah jenis manusia yang paling baik. Jenis manusia yang memiliki kemapanan ilmu, dan dia tahu kalau dirinya itu berilmu, maka ia menggunakan ilmunya. Ia berusaha semaksimal mungkin agar ilmunya benar-benar bermanfaat bagi dirinya, orang sekitarnya, dan bahkan bagi seluruh umat manusia. Manusia jenis ini adalah manusia unggul. Manusia yang sukses dunia dan akhirat,โ€ ujarnya. Golongan Kedua; Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri ~ Yaitu orang yang Tahu berilmu, tapi dia Tidak Tahu kalau dirinya Tahu. Untuk model ini, bolehlah kita sebut dia seumpama orang yang tengah tertidur. Sikap kita kepadanya membangunkan dia. Manusia yang memiliki ilmu dan kecakapan, tapi dia tidak pernah menyadari kalau dirinya memiliki ilmu dan kecakapan. Manusia jenis ini sering kita jumpai di sekeliling kita. Terkadang kita menemukan orang yang sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa, tapi ia tidak tahu kalau memiliki potensi. Karena keberadaan dia seakan gak berguna, selama dia belum bangun manusia ini sukses di dunia tapi rugi di akhirat. Golongan Ketiga; Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri ~ Yaitu orang yang tidak tahu tidak atau belum berilmu, tapi dia tahu alias sadar diri kalau dia tidak tahu . Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, ini jenis manusia yang bisa menyadari kekurangannnya. Ia bisa mengintropeksi dirinya dan bisa menempatkan dirinya di tempat yang sepantasnya. Karena dia tahu dirinya tidak berilmu, maka dia belajar. Dengan belajar itu, sangat diharapkan suatu saat dia bisa berilmu dan tahu kalau dirinya berilmu. Manusia seperti ini sengsara di dunia tapi bahagia di akhirat. Golongan Keempat; Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri ~ Yaitu orang yang Tidak Tahu tidak berilmu, dan dia Tidak Tahu tidak tahu diri kalau dirinya Tidak Tahu. Menurut Imam Ghazali, inilah adalah jenis manusia yang paling buruk. Ini jenis manusia yang selalu merasa mengerti, selalu merasa tahu, selalu merasa memiliki ilmu, padahal ia tidak tahu apa-apa. Repotnya manusia jenis seperti ini susah disadarkan, kalau diingatkan ia akan membantah sebab ia merasa tahu atau merasa lebih tahu. Jenis manusia seperti ini, paling susah dicari kebaikannya. Manusia seperti ini dinilai tidak sukses di dunia, juga merugi di akhirat. Untuk itu mari kita intropeksi diri masing-masing, di kelompak manakah kita berada. Semoga Bermanfaat.*/Kholili Hasib ____________See more >> Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Tentu hal ini merupakan fitrah dari Allah SWT. tidak ada yang sama, termasuk dalam hal hubungan mereka dengan sesama perbedaan itu bukanlah suatu masalah jika memiliki hati yang baik dan takwa, tentunya tidak hanya secara vertikal, yakni antara manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga secara horizontal, yakni antara manusia dengan manusia yang al-Ghazali, dalam kitab Bidรขyatul Hidรขyah menjelaskan bahwa ada tiga kategori golongan manusia, dilihat dari cara mereka bergaul dan bersosialisasi dengan sesama menyebutkan bahwa dalam hubungan sesamanya, manusia terbagi menjadi tiga manusia yang tergolong dalam derajat yang mulia sebagaimana derajatnya para Imam al-Ghazali, orang-orang yang termasuk dalam kategori ini senantiasa berbuat baik dengan sesama manusia, tidak hanya berbuat baik, mereka juga senantiasa memberikan kebahagian kepada sesama. Tidak hobi menyakiti orang lain, juga tidak suka berperilaku menyimpang kepada orang manusia seperti inilah yang disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan yang termasuk โ€œManzilatul kirรขm al-bararah minal malรขikahโ€, yakni golongan manusia yang sikapnya setara dengan golongan malaikat yang manusia yang setara dan sederajat dengan hewan dan benda-benda mati. Oleh al-Ghazali disebut setara dengan hewan dan benda mati, karena keberadaannya tidak memberikan dampak dan manfaat bagi orang lain, tetapi malah memberikan madharat dan bahaya bagi orang benda-benda mati, ia hanya stagnan, tidak bergerak, dan pula tidak memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia yang golongan yang terakhir adalah golongan yang sama dengan golongan hewan-hewan buas, seperti ular, kalajengking dan hewan-hewan berbahaya yang penulis Ihyรขโ€™ Ulรปmiddin ini, manusia yang termasuk golongan ini menjadi momok bagi manusia lain. Tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan, dampak bahayanya sangat atau tidak, dalam kehidupan bermasyarakat, pasti kita temukan orang-orang yang seperti ini, baik golongan pertama kedua maupun ketiga. Imam al-Ghazali menyarankan agar kita bergaul dan berinteraksi dengan golongan yang pertama, agar kita tidak mendapatkan al-Ghazali juga menyarankan agar kita senantiasa berusaha untuk menjadi bagian kelompok pertama. Jika kita tidak mampu, berusahalah agar tidak menjadi golongan kedua maupun aโ€™ ini sebelumnya telah dimuat di NU Online.